DBD Masih Mengintai Anak, Kenali Gejala dan Cara Melindungi Si Kecil

Baru semalam Bunda lihat pesan di grup WhatsApp sekolah, salah satu teman Si Kecil sedang dirawat di rumah sakit karena DBD. Belum sempat tenang, eh, paginya Si Kecil malah demam tinggi. Rasanya campur aduk, khawatir tapi juga bingung harus mulai dari mana.

Reaksi ini wajar, Bun. Gigitan nyamuk memang sering terlihat sepele, padahal nyamuk Aedes aegypti dapat membawa virus dengue penyebab demam berdarah dengue (DBD). Di Indonesia, dengue masih menjadi masalah kesehatan yang terus dipantau. Laporan SKDR Kementerian Kesehatan per 8 Agustus 2026 juga menunjukkan dengue masih termasuk penyakit yang dipantau secara nasional1.

Daripada panik, yuk mulai dari hal yang paling penting: kenali gejala DBD sejak awal, termasuk perubahan kondisi Si Kecil ketika demamnya mulai turun.

Kenali Gejala DBD pada Anak
DBD disebabkan oleh infeksi virus dengue yang ditularkan melalui gigitan nyamuk Aedes aegypti. Gejalanya dapat berupa demam tinggi mendadak, lemas, sakit kepala, nyeri otot dan sendi, mual atau muntah, nafsu makan menurun, hingga muncul ruam atau bintik kemerahan pada kulit2,3.

Gejala DBD tidak selalu khas sejak hari pertama. Karena itu, jangan hanya menunggu munculnya bintik merah, ya Bun, tetapi perhatikan juga perubahan kondisi Si Kecil secara keseluruhan.

Demam Turun Belum Tentu Berarti Sudah Sembuh
Salah satu hal yang perlu Bunda waspadai adalah ketika demam mulai turun. Pada dengue, kondisi ini dapat terjadi saat anak memasuki fase kritis, yaitu ketika terjadi peningkatan permeabilitas pembuluh darah (diameter pembuluh darah) yang dapat menyebabkan kebocoran plasma dan pada kondisi berat berisiko menyebabkan syok. Segera cari pertolongan medis bila setelah demam turun Si Kecil justru semakin lemas, terus muntah, sulit makan atau minum, mengalami nyeri perut hebat, perdarahan, buang air kecil berkurang, tangan dan kaki terasa dingin, atau sulit dibangunkan3.

Apa yang Bisa Bunda Lakukan Saat Si Kecil Demam?
Jika dokter menilai Si Kecil dapat dirawat di rumah, pastikan ia cukup beristirahat dan mendapat cairan yang cukup untuk mencegah dehidrasi. Parasetamol dapat digunakan untuk membantu meredakan demam dan nyeri sesuai dosis yang dianjurkan. Hindari memberikan aspirin atau ibuprofen ketika mencurigai dengue karena dapat meningkatkan risiko perdarahan. Selama perawatan di rumah, tetap pantau kondisi Si Kecil dengan cermat, terutama ketika demam mulai turun6.

Cegah DBD dari Lingkungan dan Gigitan Nyamuk
Pencegahan DBD dimulai dari rumah melalui 3M Plus, yaitu menguras dan membersihkan tempat penampungan air, menutupnya rapat, serta memanfaatkan atau mendaur ulang barang yang dapat menampung air. Upaya tambahan dapat dilakukan dengan mencegah gigitan nyamuk dan rutin memeriksa tempat yang berpotensi menjadi sarang jentik4.

Selain menjaga lingkungan, perlindungan dari gigitan nyamuk juga penting disesuaikan dengan usia Si Kecil. Untuk bayi baru lahir, Bunda dapat menggunakan Konicare Minyak Telon Plus Lavender yang diformulasikan khusus dan aman untuk kulit bayi yang masih sensitif. Bahan alami pilihannya membantu melindungi Si Kecil dari gigitan nyamuk hingga 8 jam, sekaligus memberikan efek calming lavender dengan wangi lembut premium dari essential oil pilihan. Manfaat telonnya juga membantu menghangatkan tubuh Si Kecil dan mencegah perut kembung.

Saat Si Kecil mulai beranjak lebih besar dan aktif bereksplorasi, Bunda dapat menggunakan Konicare Minyak Kayu Putih Plus yang diformulasikan khusus dengan level hangat lembut untuk anak. Dengan aroma minyak kayu putih yang khas, formulanya membantu melindungi Si Kecil dari gigitan nyamuk hingga 8 jam, sekaligus memberikan rasa hangat dan nyaman pada tubuh.

Perlu diingat, perlindungan dari gigitan nyamuk merupakan bagian dari upaya pencegahan dan tetap perlu dilakukan bersama 3M Plus. Jika Si Kecil menunjukkan gejala yang mengarah ke DBD, segera lakukan pemeriksaan ke dokter, ya Bun.

Kapan Si Kecil Perlu Segera Dibawa ke Dokter?
Bunda tidak perlu menunggu sampai Si Kecil terlihat sangat lemah. Jika demam berlangsung lebih dari 3 hari atau kondisinya justru memburuk, terutama setelah suhu mulai turun, segera konsultasikan ke dokter. Pemeriksaan diperlukan untuk menilai kondisi Si Kecil secara menyeluruh dan menentukan apakah diperlukan pemeriksaan darah atau pemantauan lebih lanjut2,3.

Selain DBD, Waspadai Juga Tipes pada Anak
DBD bukan satu-satunya penyebab demam yang perlu diperhatikan. Demam tifoid atau tipes merupakan infeksi bakteri Salmonella Typhi yang dapat menyebar melalui makanan atau minuman yang terkontaminasi. Gejalanya dapat berupa demam berkepanjangan, tubuh lemas, sakit kepala, nyeri perut, mual, diare, atau gangguan pencernaan lainnya. Karena itu, selain menjaga lingkungan dari perkembangbiakan nyamuk, biasakan Si Kecil mencuci tangan serta mengonsumsi makanan matang dan air dari sumber yang bersih, ya Bun5.

Perlindungan Dimulai Sebelum Si Kecil Sakit
Risiko DBD maupun tipes bisa datang dari hal-hal sederhana di sekitar Si Kecil. Jadi, daripada cuma ikut resah di grup WhatsApp, yuk mulai bergerak dengan menjaga kebersihan lingkungan, mengurangi tempat berkembang biaknya nyamuk, melindungi Si Kecil dari gigitan, dan membiasakan pola hidup bersih sejak dini.

Bila demam disertai perubahan kondisi yang mengkhawatirkan, segera konsultasikan dengan dokter untuk mendapatkan pemeriksaan yang tepat. Untuk menambah wawasan seputar kesehatan dan tumbuh kembang Si Kecil, Bunda juga dapat bergabung di Konicare VIP Club dan menonton berbagai video eksklusif bersama Konicare VIP Experts di VIP Class.


___

1 Kementerian Kesehatan RI, Sistem Kewaspadaan Dini dan Respon. Situation Report Penyakit Potensial KLB dan Wabah Minggu Epidemiologi ke-30 Tahun 2026. Data per 8 Agustus 2026.
2 Kementerian Kesehatan RI, Ayo Sehat. Demam Berdarah Dengue.
3 Ikatan Dokter Anak Indonesia. Memahami Demam Berdarah Dengue Bagian 2, Waspada Demam Berdarah Dengue, dan Gerakan Bersama Melawan Demam Berdarah.
4 Kementerian Kesehatan RI, Ayo Sehat. Pemberantasan Sarang Nyamuk dengan 3M Plus.
5 Kementerian Kesehatan RI, Ayo Sehat. Tipus (Penyakit Tipes) dan Direktorat Jenderal Pelayanan Kesehatan. Mengenal Demam Tifoid.
6 Kementerian Kesehatan RI. Demam Berdarah Dengue: Kapan Harus ke IGD dan Pedoman Nasional Pelayanan Kedokteran Tata Laksana Infeksi Dengue Anak dan Remaja.






Artikel Terkait

BACK TO TOP