Menjelang Ramadan, banyak Bunda merasa dirinya lebih mudah lelah, cepat tersentuh, atau emosinya naik turun tanpa alasan yang jelas. Bukan karena kurang sabar, bukan pula karena “baper berlebihan”. Perubahan ini sering kali berangkat dari respons alami tubuh dan pikiran yang sedang bersiap menghadapi ritme baru.
Di fase ini, memahami apa yang terjadi pada tubuh dan emosi menjadi langkah awal agar Bunda bisa merawat diri dengan lebih tenang.
Sensitif Itu Sinyal, Bukan DramaPerasaan sensitif menjelang Ramadan sering kali merupakan sinyal bahwa tubuh sedang beradaptasi. Jadwal tidur mulai bergeser, aktivitas rumah bertambah, dan banyak hal dipikirkan sekaligus. Saat energi terkuras, wajar kalau emosi jadi lebih mudah terpancing.
Bunda tidak sedang “lebay”. Bunda sedang menjalani fase transisi yang memang membutuhkan energi fisik dan mental.
Penyesuaian Ritme Tubuh Mulai Menjelang Ramadan
Beberapa hari atau minggu sebelum Ramadan, banyak Bunda mulai menyesuaikan kebiasaan harian, seperti tidur lebih awal, bangun lebih cepat, atau menyiapkan berbagai kebutuhan rumah. Di saat yang sama, agenda harian tetap berjalan seperti biasa.
Perubahan ritme ini bisa memengaruhi rasa bugar. Tubuh yang belum sepenuhnya menyesuaikan biasanya lebih cepat capek, lebih gampang pegal, dan terasa kurang nyaman. Saat fisik tidak enak, emosi pun lebih rentan ikut turun naik.
Faktor Fisik yang Sering Jadi PemicuSensitivitas emosional sering berangkat dari hal-hal fisik yang terlihat sepele, tapi efeknya terasa:
- Kurang tidur atau kualitas tidur menurun.
- Otot tegang di punggung, bahu, atau pinggang karena aktivitas padat.
- Tubuh terasa dingin karena perubahan cuaca, AC, atau kondisi badan yang lelah.
- Pola makan mulai berubah, termasuk jam makan yang semakin tidak teratur menjelang Ramadan.
Kalau tubuh tidak nyaman, biasanya ambang sabar jadi lebih pendek. Ini sesuatu hal yang sangat wajar, ya Bun.
Beban Mental Menjelang Ramadan
Selain fisik, pikiran Bunda juga bekerja lebih keras. Ada banyak yang dipersiapkan: kebutuhan rumah, urusan menu, jadwal anak, aktivitas keluarga, sampai hal-hal kecil yang sering hanya Bunda yang memikirkannya. Beban mental seperti ini sering tidak terlihat, tapi menguras energi. Saat kepala penuh, Bunda jadi lebih mudah sensitif dan lebih cepat merasa kewalahan.
Kenapa Tubuh Perlu Dibantu Tetap Hangat dan RileksDi fase transisi seperti ini, tubuh perlu dikembalikan ke kondisi yang lebih nyaman agar Bunda bisa menjalani hari dengan lebih stabil. Menjaga tubuh tetap hangat membantu melepas ketegangan otot, melancarkan sirkulasi, dan membuat tubuh lebih siap beristirahat.
Pijatan ringan di area yang sering terasa tegang, seperti bahu, punggung, pinggang, atau kaki, bisa menjadi cara sederhana yang menenangkan. Bunda dapat menggunakan Konicare Minyak Kayu Putih Hot sebagai pendamping pijatan. Dengan level kehangatan yang lebih intens, membantu meredakan pegal dan membuat tubuh terasa lebih nyaman setelah aktivitas seharian.
Untuk Bunda yang lebih menyukai sensasi hangat yang lebih mild, Konicare Minyak Kayu Putih dengan level hangat yang pas untuk keluarga juga bisa menjadi pilihan pendamping harian.Menutup Hari dengan Lebih Tenang
Menjelang Ramadan, sensitif sering muncul karena tubuh dan pikiran sedang memproses banyak penyesuaian. Bunda tidak perlu memaksa diri untuk selalu kuat setiap waktu. Yang lebih penting adalah mengenali sinyal tubuh, lalu memberi dukungan kecil yang realistis.
Mulai dari istirahat yang cukup, atur ritme pelan-pelan, dan bantu tubuh tetap hangat serta rileks lewat pijatan ringan. Saat badan lebih nyaman, emosi biasanya lebih mudah stabil. Tetap semangat, ya Bunda!