Nyeri haid dalam istilah medis disebut "Dismenore". Dismenore didefinisikan sebagai nyeri selama siklus menstruasi. Nyeri ini biasanya terletak di perut bagian bawah dan dapat menjalar ke paha bagian dalam dan punggung. Dismenore merupakan masalah ginekologi yang sangat umum dan dapat berdampak pada kehidupan pasien¹.
Selain kram, Bunda dengan nyeri haid sering juga mengalami gejala lain selama menstruasi, seperti mual, kelelahan, dan bahkan diare. Dismenore merupakan keluhan umum pada pasien yang sedang menstruasi selama masa reproduksi. Dismenore dapat dikaitkan dengan dampak negatif yang signifikan terhadap kesehatan emosional, psikologis, dan fungsional.
Beberapa perempuan mengalami nyeri yang begitu hebat selama menstruasi sehingga mengganggu aktivitas sehari-hari, hingga harus menggunakan obat pereda nyeri. Memberikan pilihan pengobatan bagi pasien yang mengalami dismenore dapat mengurangi morbiditas (angka kesakitan) terkait secara signifikan.
Pengertian Nyeri Haid Primer dan Sekunder
Untuk memahami mana yang normal dan mana yang perlu diwaspadai, Bunda perlu mengenal dua jenis nyeri haid. Nyeri haid dapat diklasifikasikan menjadi primer dan sekunder. Dismenore primer adalah nyeri perut bagian bawah berulang yang terjadi selama siklus menstruasi dan tidak terkait dengan penyakit lain atau patologi yang mendasarinya.
Nyeri haid primer umumnya hampir selalu muncul setiap kali menstruasi, tetapi bukan disebabkan oleh kondisi medis lain. Nyeri biasanya dimulai satu atau dua hari sebelum menstruasi atau saat pendarahan mulai terjadi. Seorang perempuan mungkin merasakan nyeri ringan hingga berat di perut bagian bawah, punggung, atau pinggang. Nyeri biasanya mereda dalam dua atau tiga hari.
Sebaliknya, nyeri haid sekunder adalah nyeri haid yang disebabkan oleh penyakit, gangguan, atau kelainan struktural yang mendasarinya, baik di dalam maupun di luar rahim. Nyeri haid sekunder dapat menyerang Bunda kapan saja setelah menarche (haid pertamanya). Namun, nyeri haid sekunder bisa saja baru muncul pada Bunda di usia 30-an atau 40-an.
Nyeri haid sekunder dapat disertai dengan intensitas nyeri yang bervariasi dan, terkadang, gejala lain seperti dispareunia (nyeri saat berhubungan seksual), menorrhagia (perdarahan menstruasi yang berat), keluar bercak atau pendarahan intermenstrual (pendarahan diantara siklus menstruasi), dan pendarahan pasca koitus (pendarahan pasca hubungan seksual).
Ada banyak penyebab umum nyeri haid sekunder, termasuk endometriosis, bekas luka caesar yang besar, fibroid (jaringan parut di rahim), adenomiosis (penebalan dinding rahim), polip endometrium (tumbuh jaringan tidak normal di dinding rahim), penyakit radang panggul, dan kemungkinan penggunaan sistem kontrasepsi intrauterin.
Nyeri haid sekunder biasanya dimulai lebih awal dalam siklus menstruasi dan berlangsung lebih lama daripada kram menstruasi pada umumnya. Misalnya, kram sudah dialami beberapa hari sebelum menstruasi dan nyeri tersebut dapat berlangsung hingga pendarahan menstruasi berhenti sepenuhnya. Kasus nyeri haid sekunder ini lebih jarang terjadi.
Berikut panduan sederhana untuk membedakan nyeri haid primer dan sekunder:
| Aspek | Nyeri Haid Primer | Nyeri Haid Sekunder |
| Penyebab | Normal, hormon (prostaglandin) | Ada penyakit tertentu |
| Usia Muncul | Remaja/awal menstruasi | Dewasa (20-30 tahun) |
| Waktu | 1-2 hari sebelum haid, reda di hari 2-3 | Bisa sebelum, saat, dan setelah haid |
| Intensitas | Ringan-sedang | Sedang-berat, makin lama makin parah |
| Respon obat | Membaik dengan analgesik | Tidak banyak membantu |
| Gejala tambahan | Biasanya tidak ada | Bisa ada (nyeri saat berhubungan, pendarahan berat, dll) |
Kapan Harus ke Dokter?
Segera konsultasikan ke dokter bila nyeri haid sangat intens yang mengganggu aktivitas bahkan sampai pingsan. Atau nyeri semakin lama semakin berat disertai pendarahan yang banyak, dan nyeri tidak membaik dengan obat pereda nyeri. Pemeriksaan dini membantu mendeteksi masalah lebih cepat dan mencegah kondisi semakin parah.
Mengatasi Nyeri Haid di Rumah
Nyeri haid merupakan keluhan yang umum dialami dan sering kali dapat ditangani dengan perawatan sederhana di rumah. Salah satu metode yang efektif adalah memberikan sensasi hangat pada area perut. Hal ini dapat dilakukan menggunakan kompres air hangat atau dengan mengoleskan minyak kayu putih pada bagian yang terasa tidak nyaman. Setelah dioleskan, area tersebut dapat dipijat perlahan untuk membantu merelaksasi otot. Menghirup uap minyak kayu putih juga dapat memberikan tambahan rasa nyaman. Sensasi hangat yang dihasilkan membantu mengurangi kram dan meredakan nyeri yang muncul selama menstruasi.
Pilihlah minyak kayu putih yang tersedia dalam beberapa tingkat kehangatan yang dapat disesuaikan dengan kebutuhan. Untuk keluhan nyeri haid yang lebih berat, dapat dipilih varian dengan sensasi hangat yang lebih kuat. Sementara itu, jika nyeri tergolong ringan hingga sedang, penggunaan minyak kayu putih dengan tingkat kehangatan yang lebih lembut dapat memberikan kenyamanan tanpa terasa terlalu panas.
Di setiap nyeri yang Bunda alami, Bunda sedang merawat tubuh sekaligus memberi ruang bagi diri untuk kembali kuat. Temukan lebih banyak insight seputar kesehatan perempuan dan tips nyaman saat menstruasi dengan follow Instagram & TikTok @bundakonicare agar setiap hari terasa lebih ringan dan penuh kendali!
___
Referensi:
1. Nagy, H. (2023). Dysmenorrhea. https://www.ncbi.nlm.nih.gov/books/NBK560834/. Diakses pada pada 18 November 2025.
2. Chauhan M, Kala J. Relation between dysmenorrhea and body mass index in adolescents with rural versus urban variation. J Obstet Gynaecol India. 2012 Aug;62(4):442-5.[PMC free article] [PubMed]
3. Burnett M, Lemyre M. No. 345-Primary Dysmenorrhea Consensus Guideline. J Obstet Gynaecol Can. 2017 Jul;39(7):585-595
4. Mrugacz G, Grygoruk C, Sieczyński P, Grusza M, Bołkun I, Pietrewicz P. [Etiopathogenesis of dysmenorrhea]. Med Wieku Rozwoj. 2013 Jan-Mar;17(1):85-9. [PubMed]
5. Proctor M, Farquhar C. Diagnosis and management of dysmenorrhoea. BMJ. 2006 May 13;332(7550):1134-8. [PMC free article] [PubMed]